BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PELINDUNGAN TANAMAN PERKEBUNAN AMBON
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

Strategi Pengendalian Hama Terpadu pada Kelapa Menggunakan Trichoderma

Diposting     Rabu, 29 April 2026 06:04 am    Oleh    Admin Balai Ambon



Strategi Pengendalian Hama Terpadu pada Kelapa Menggunakan Trichoderma

Menuju kelapa sehat dan produksi meningkat dengan sistem Pengendalian Hayati Berkelanjutan. Inisiatif dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon.

Mengenal Hama Utama Tanaman Kelapa

Untuk melakukan pengendalian yang efektif, kita harus mengenali karakteristik hama dan gejalanya:

Jenis Hama Karakteristik & Gejala Dampak pada Tanaman
Sexava sp. Merusak daun muda, membuat pucuk tersayat, dan meninggalkan goresan pada tulang daun. Pertumbuhan terhambat dan menurunkan produksi kelapa secara signifikan.
Oryctes rhinoceros Larva merusak pangkal batang, akar, dan bahan organik. Gejala terlihat dari potongan berbentuk huruf “V” pada daun. Tanaman menjadi kerdil, daun menguning, mudah roboh, bahkan dapat mematikan tanaman.

Solusi Hayati Berkelanjutan: Apa itu Trichoderma?

Trichoderma spp. adalah jamur antagonis yang berperan sebagai agens pengendali hayati. Tidak hanya melawan hama, Trichoderma juga berfungsi sebagai sahabat tanah.

Manfaat Utama Trichoderma:

  • Menekan Patogen: Menghambat perkembangan jamur penyebab busuk pangkal batang.
  • Dekomposer Alami: Mempercepat pengomposan bahan organik yang biasanya menjadi tempat berkembang biak larva Oryctes.
  • Kesehatan Akar: Meningkatkan kesuburan tanah dan membantu penyerapan hara oleh akar.
  • Ramah Lingkungan: Aman bagi manusia, tanaman, dan ekosistem sekitar.

Panduan Aplikasi Trichoderma di Lapangan

Ikuti 4 langkah mudah aplikasi untuk hasil maksimal:

  1. Pengomposan: Campurkan 1–2 kg Trichoderma per ton bahan organik saat proses pembuatan kompos.
  2. Aplikasi Pangkal Batang: Taburkan 100–200 gram Trichoderma di sekitar pangkal batang, lalu tutup tipis dengan tanah atau kompos.
  3. Pengendalian Larva: Taburkan pada tempat perkembangbiakan larva (tumpukan tandan kosong, seresah, atau limbah organik).
  4. Aplikasi Berkala: Ulangi setiap 1–2 bulan sekali, atau segera setelah hujan lebat untuk menjaga populasi jamur baik di tanah.

Pengendalian Terpadu (IPM) Lainnya

Selain penggunaan agens hayati, langkah pencegahan fisik tetap diperlukan:

  • Sanitasi Kebun: Bersihkan pelepah, tandan kosong, dan gulma secara rutin.
  • Eradikasi: Musnahkan bagian tanaman yang terserang berat agar tidak menular.
  • Perangkap Feronon: Gunakan untuk mengendalikan populasi kumbang (Oryctes) dewasa.
  • Pemantauan: Lakukan monitoring kebun secara berkala untuk deteksi dini serangan.

 

 


Bagikan Artikel Ini