Dorong Komoditas Kelapa, Pala, dan Kakao, BBPPTP Ambon Geber Evaluasi Ebanper di Maluku
Diposting Selasa, 18 Agustus 2026 02:08 pmAmbon — Dalam rangka mempercepat pelaksanaan program hilirisasi perkebunan di Provinsi Maluku, dilaksanakan rapat koordinasi dan workshop yang membahas evaluasi penggunaan aplikasi Ebanper serta perkembangan program pada komoditas strategis kelapa, pala, dan kakao.
Kegiatan ini menjadi ruang koordinasi antara pemerintah, BRMP, dinas pertanian, penyuluh, dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan seluruh proses pengusulan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) berjalan sesuai ketentuan.
Dalam pembahasan, masih terdapat sejumlah kabupaten yang perlu mempercepat kelengkapan dokumen dan pengajuan usulan melalui Ebanper. Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama karena kelengkapan dokumen merupakan bagian penting dalam proses verifikasi sebelum program dapat memasuki tahap pelaksanaan.
Sejumlah progres turut disampaikan. Untuk komoditas kelapa seluas 500 hektare, kontrak telah dilakukan untuk 100 hektare dan 400 hektare. Sebanyak 100 hektare telah diverifikasi, sementara 400 hektare lainnya masih menunggu proposal dari dinas kabupaten.
Pada komoditas pala, Buru Selatan seluas 300 hektare menjadi salah satu contoh percepatan setelah berhasil menyelesaikan dokumen CPCL secara lengkap dalam waktu dua minggu. Sementara itu, usulan pala di Maluku Tengah dan SBB serta kakao di Maluku Tengah masih memerlukan percepatan proses pengajuan dan verifikasi.
Rapat juga membahas sejumlah kendala teknis, mulai dari kepemilikan akun Ebanper, keterdaftaran kelompok tani pada Simluhtan, hingga kebutuhan penguatan pendampingan penyuluh di lapangan. Koordinasi antarjalur pengusulan juga menjadi perhatian untuk mencegah terjadinya duplikasi kelompok tani.
Target bersama ditetapkan pada akhir Agustus 2026, seluruh dokumen CPCL dan pengajuan melalui Ebanper dapat diselesaikan. Selanjutnya, pada Oktober 2026 ditargetkan mulai dilakukan persiapan lahan, pembuatan lubang tanam serta penyaluran benih dan pupuk, dengan target penanaman selesai pada November 2026.
Selain itu, perkembangan komoditas perkebunan lainnya turut menjadi perhatian, termasuk proses rekomendasi pelepasan varietas Cengkeh Nusa Amah


